1. Pergantian Siang dan Malam
Fenomena pergantian siang dan malam pada dasarnya fenomena yang sudah tidak aneh lagi. Pergantian siang dan malam merupakan salah satu peristiwa yang selalu disaksikan dan dialami. Langit setiap hari memperlihatkan perubahannya. Dalam setengah hari, langit terlihat terang (disebut sebagai siang hari), sedangkan di setengah hari berikutnya langit terlihat gelap (disebut sebagai malam hari).
Pergantian siang dan malam disebabkan oleh Matahari yang bergerak mengelilingi Bumi yang berbentuk setengah bulat-datar, bumi berotasi pada sumbunya. Penyebab terjadinya pergantian siang dan malam menurut beberapa pendapat:
1. Peristiwa pergantian siang dan malam disebabkan oleh rotasi bumi pada sumbunya.
2. Peristiwa pergantian siang-malam disebabkan oleh Bumi mengelilingi Matahari selama 24 jam sehari.
3. Pergantian siang dan malam ada keterkaitannya dengan awan dan Bulan; saat malam hari, Matahari akan berada di balik awan-awan atau tertutup Bulan
4. Pergantian siang dan malam merupakan “pertukaran” posisi Matahari dan Bulan.
5. Peristiwa pergantian siang-malam diamati dari pengamatan terhadap langit di suatu tempat di Bumi; peristiwa siang- malam melibatkan ada-tidak adanya Bulan di langit.
2. Perbedaan Zona Waktu
Tahukah kamu bahwa perbedaan zona waktu terjadi karena adanya rotasi bumi,mengapa itu bisa terjadi? Dan bagaimana perbedaan waktu di Indonesia?
Dalam satu hari matahari akan berputar selama 23 jam 56 menit. Seperti yang kita ketahui matahari akan berputar pada porosnya. Waktu 23 jam 56 menit tersebut kemudian dibulatkan menjadi 24 jam. Perputaran itu akan menyebabkan matahari berbeda pada posisi celestial sphere. Matahari akan membentuk satu lingkaran secara penuh. Satu lingkaran penuh sama dengan 360 derajat. Lingkaran tersebut akan ditempuh selama 24 jam oleh matahari. Jika melihat waktu selama 1 jam, maka sama dengan 15 derajat. Kemudian, setiap panjang dari garis bujur adalah 15 derajat. Hal itu kemudian ditetapkan sebagai zona waktu tersendiri. Zona waktu tersebut ditetapkan melalui rumus GMT + waktu pada daerah tersebut. Untuk mengetahui bagaimana pembagian waktu di Indonesia, perlu dilihat letak astronomisnya.
A. WIT (Waktu Indonesia Timur)
Waktu di Indonesia bagian timur disebut WIT (waktu Indonesia timur). Zona waktu pada wilayah ini terbentang sepanjang garis bujur timur sekitar 135 derajat. Bentangan pada garis bujur ini mencakup beberapa wilayah Indonesia yang paling timur. Wilayah tersebut meliputi Pulau Maluku dan Papua. Zona waktu wilayah Indonesia bagian timur ini dapat ditentukan melalui sebuah rumus. Rumus tersebut adalah UTC + 9 atau GMT + 9. Provinsi yang ada di Pulau Maluku dan Papua yang mengikuti waktu Indonesia timur ini adalah sebagai berikut:
B. WITA (Waktu Indonesia Tengah)
Waktu pada wilayah Indonesia di bagian tengah disebut WITA. Zona waktu wilayah ini terbentang sepanjang garis bujur timur 120 derajat. Waktu pada Indonesia bagian tengah ini pembagian waktunya sama dengan pembagian waktu internasional. Zona waktu wilayah Indonesia bagian tengah ini dapat ditentukan melalui sebuah rumus. Rumus tersebut adalah UTC + 8 atau GMT + 8. Bentangan garis bujur pada wilayah ini mencakup beberapa wilayah yang ada di Indonesia.
C. WIB (Waktu Indonesia Barat)
Waktu pada Indonesia bagian barat disebut WIB. Zona waktu wilayah barat ini terbentang sepanjang garis bujur timur 105 derajat. Zona waktu wilayah Indonesia bagian barat ini dapat ditentukan melalui sebuah rumus.
3. Gerak Semu Matahari
Apakah kalian tahu bahwa gerak semu matahari disebabkan oleh adanya rotasi dan revolusi bumi? Mari kita bahas dibawah ini!
Sumber:https/gerakanbumigoogle
Matahari adalah sumber cahaya dan kehidupan di Bumi kita. Namun, apakah Anda pernah bertanya-tanya mengapa posisi matahari terlihat berubah sepanjang tahun? Ini adalah fenomena yang disebut gerak semu tahunan matahari. Gerak semu tahunan matahari adalah hasil dari pergerakan revolusi Bumi mengelilingi matahari. Namun, tidak hanya revolusi yang memainkan peran utama dalam fenomena ini. Poros Bumi, dengan kemiringannya yang miring sekitar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya, memberikan pengaruh besar. Efek ini menyebabkan matahari terlihat bergerak dari selatan ke utara dan kembali lagi setiap tahun.
Pada saat Bumi berada di titik tertentu dalam revolusinya, salah satu kutub Bumi akan lebih condong ke arah matahari. Ketika bagian utara Bumi condong ke matahari, terjadi musim panas di belahan Bumi utara, sedangkan bagian selatan mengalami musim dingin. Sementara itu, ketika bagian selatan Bumi condong ke matahari, musim panas terjadi di belahan Bumi selatan, sementara di belahan utara mengalami musim dingin.
Titik paling utara dalam perjalanan matahari ini disebut titik balik utara, dan terjadi antara 20–22 Juni setiap tahunnya. Pada saat ini, matahari mencapai posisi tertinggi di langit di belahan Bumi utara, dan siang hari lebih lama dengan sinar matahari yang lebih intens. Ini adalah waktu ketika banyak negara di belahan utara mengalami musim panas yang hangat.
Di sisi lain, ketika matahari mencapai titik paling selatan, terjadi titik balik selatan. Ini terjadi antara 20–23 Desember, dan pada saat itu, matahari mencapai posisi terendah di langit di belahan Bumi selatan. Bagian utara Bumi mengalami musim dingin, sementara di belahan selatan, matahari bersinar dengan intensitas lebih besar dan musim panas terjadi.
Terdapat juga titik tengah antara kedua titik balik ini, yang disebut ekuinoks. Ekuinoks terjadi sekitar 20–21 Maret dan 22–23 September setiap tahunnya. Pada saat ini, siang dan malam memiliki durasi yang sama di seluruh dunia, tanpa dominasi musim panas atau musim dingin.
Selain efeknya terhadap musim dan cuaca, gerak semu tahunan matahari juga memiliki implikasi penting dalam praktik keagamaan tertentu. Dalam Islam, umat Muslim menggunakan gerak semu ini untuk menentukan arah kiblat, yaitu arah Ka’bah di Mekah, saat melaksanakan salat. Bayangan yang dihasilkan oleh matahari saat melewati posisi lintang Ka’bah pada dua titik kulminasi ini menunjukkan arah kiblat.
Gerak semu tahunan matahari adalah fenomena yang menarik yang mengungkapkan bagaimana pergerakan Bumi mengelilingi matahari dan kemiringan porosnya berdampak pada perubahan musim, panjang hari, dan bahkan praktik keagamaan tertentu. Dalam setiap perjalanan matahari yang bergerak dari utara ke selatan dan kembali lagi, kita dapat melihat keindahan alam semesta dan keajaiban ilmu pengetahuan di baliknya.